Thursday, October 1, 2015

Menatap Dunia Merengkuh Langit

Sore senja matahari Jakarta. Dari jendela lantai 4 jingga sinarnya menempel ditembok. Putih menjadi krem. Diseberang jauh kadang kulihat mobil dan motor berlalu lalang dibawah. Kadangkala kereta melaju jauh. Bendera merahputih di gedung seberang berkibar. Gedung tinggi di sebarang masih dibangun. Memulai pekerjaan baru yang tak asing, ditempat baru, seperti mulai kembali naik sepeda di sore dan pagi hari minggu. Ramai menyenangkan. Langit dihadapanku kini biru keabu-abuan, suara kendaraan masih terdengar laksana raungan macan yang sekarang mungkin terjebak di hutan yang terbakar. Senja semakin tua. Malam pun segera tiba. Hijau pohon nampak berhimpitan dengan gedung-gedung. Malam segera tiba. Aku masih menulis berharap bisa melupakan perasaan suka, perasaan cinta yang telah merasuk padaku untuknya. Aku menulis saja, tanpa tahu apa yang kutulis. Rasa dan nurani ini yang menuliskan segala huruf segala kata, dengan kata-kata aku berupaya merengkuh dunia menggapai langit. Kata-kata selalu menjadi temanku, kekasihku yang setia yang menemaniku dengan segala harap dan kerinduan..

No comments:

Post a Comment