Saturday, October 3, 2015
Manusia Biasa
Aku manusia biasa. Sangat biasa bahkan. Tidak pernah juara 1 di kelas. Tidak pernah gemilang dalam prestasi apapun.Hanya pernah juara 1 menulis puisi sewaktu SMA Namun aku manusia istimewa bagi diriku sendiri, keluarga dan teman.
Tak perlu kunyatakan keistimewaanku. Biarlah mereka yang kusebutkan itu yang tahu dan merasakannya.
Aku manusia biasa, jadi bukan malaikat bukan iblis tentu saja. Tapi sebagai manusia aku menjunjung tinggi dan memuliakan manusia lain. Terutama mereka yang menimbulkan rasa baik dan positif tentangku terhadap tindakanku.
Manusia adalah mahluk istimewa. Mahluk paling mulia, berkuasa sekaligus bisa menjadi paling hina. Terutama ketika dia sudah tidak menjadi manusia lagi secara rohaninya. Fisiknya mungkin tetap manusia tapi ketika kelakuannya sudah tak ada nuraninya dia sesungguhnya sudah menjadi mahluk lain, yang lebih rendah derajatnya.
Menjadi manusia sejati yang baik sulit sekali. Berbeda dengan mahluk lain, hidup manusia banyak aturannya.
Aturan bagi manusia itu banyak. Hal ini terjadi karena manusia keturunan dewa/dewi. Ya ada juga dewa/dewi pembawa sifat jahat. Itulah kenyataannya.
Dalam diri manusia ada juga suatu yang jahat, bagaimana pun dua hal baik/buruk ada dalam pikir dan perasaan manusia. Selalu saja bergumul. Dalam menentukan tindakan atau laku.
Manusia sendiri jika ditimpa masalah maka ia akan kembali kepada dirinya sendiri. Memutuskan sesuatu untuk dirinya sendiri, kepentingannya sendiri menurut pikiran dan perasaannya sendiri. Perempuan dan ibu kadangkala adalah manusia yang paling sering mengunakan pikiran dan perasaannya dengan mengacu pada kepentingan orang lain. Seringkali perempuan berupaya memenuhi apa yang diinginkan orang lain tetapi bukan keinginannya sendiri. Banyak perempuan sepanjang hidupnya memenuhi kebutuhan keluarganya hingga seringnlupa dengan kebutuhannya sendiri. Bahkan yang lebih parah tidak bisa mengidentifikasi kebutuhan pribadinya sendiri.
Dahulu kala aku pernah mengenal seorang perempuan yang berkorban banyak untuk keluarganya bekerja keras dalam keluarga besarnya dan segala derita sakit ditahankannya hingga benar-benar menderita sakit fisik. Dari dia aku menekan makna bahwa Ibu adalah Kata Kerja.
Kini aku sendiri sedang mengalami masalah, yang sebenarnya bukan masalah jika saja aku bisa bersikap seperti "kutipan kata-kata positif" yang selalu kuambil. Atau jika saja aku bisa seperti laki-laki yang cepat berpindah posisi diri. Tidak mempedulikan perasaanku sendiri. Tidak bisa aku bukan orang yang dapat dengan mudah mengabaikan perasaanku.
Selama ini perasaankulah yang membimbingku hingga aku bisa jadi seperti sekarang. Perasaanku dan tentu tangaNya mengarahkan aku membuat tulisa karya ilmiah sekalipun. Menghadapi permasalahan yang melibatkan manusia lain selalu membuat kondisi pikiran dan hati tak mau berhenti bergerak. Ke atas ke bawah ke kiri ke kanan, segala penjuru adalah ruang pencarian kenyamanan dan penemuan harapan. Namun sebagai manusia biasa yang belum menguasai waktu, tak bisa aku menenangkan diriku. Tak bisa aku gembira lebih dulu karena hasil di depan akan baik. Tak bisa aku mencegah kesedihan di depan, tak bisa. Menyiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi mungkin. Tetapi ketika waktunya terjadi belum tentu sama dengan persiapan.
Didalam ketidak pastian dan kedukaan yang disebabkan sesuatu kejadian yang tak sesuai harapan, terhadap orang yang masuk didalam rangkaian peristiwaku. Maka aku manusia biasa kini sedang berusaha mencari pemecahan sendiri,dengamelarikan diri atau mencoba pemecahan masalah. Ya aku mencoba cara panduan memecahkan masalah cinta tak terbalas, dan bagaimana menyikapi jika diperlakukan "diam" "tidak dianggap". Aku mencoba menghubungi, berkirim pesan baik, pesan pertemanan. Namun sepertinya hingga hari ini dia orang baik yang kuanggap baik tak juga membalas pesan dan tak menjawab apapun, sudah berarti kebaikannya bukan jatah untukku. Kebaikanku pun bukan jatah untuknya lagi.
Kita berdua bisa memindahkan niat baik kita dan upaya baik kita kepada orang lain yang akan menerima atau sekaligus membalas baik.
Tak ada yang sia-sia dalam setiap niat baik yang hendak dan sudah dilaksanakan. Masalah keberlanjutan kelangsungan dan durasi waktu bukanlah Kuasa aku, juga bukan kuasa dia.
Sekali lagi. Tak ada suatu yang sia-sia
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment