Saturday, October 10, 2015
Berhenti Mengharapkanmu
Rasanya aku sudah cukup baik dengan menerima begitu saja penghinaan itu. Unek-unek disampaikan tanpa ada jawaban. Mungkin aku tak berhak mendapat jawaban atas segala unek-unek dan banyak tanyaku. Mungkin aku harus pergi.
Karena dia memutus tali silaturahmi dan menutup rapat-rapat pintu yang sudah dibukanya lebar-lebar. Terhadap orang ini harusnya aku bisa pergi begitu saja. Tanpa memikirkannya.
Tidak bisa. Aku butuh jawaban.
Aku butuh sapaan.
Namun sampai kapan? Tak mungkinlah aku merengek-rengek meminta bertemu, meminta jalin kembali tali pertemanan. Tak mungkin.
Yang boleh kulakukan adalah menunggu dengan luka yang masih basah. Entah kapan keringnya. Menunggu dihubungi lagi olehmu atau aku padamu.
Kuharapkan satu bulan ke depan sudah ada titik terang. Apakah kau benar-benar Ada sebagai manusia, sebagai Teman, atau hanya mahluk yang tak jelas juntrungannya yang menggangguku dengan "penderitaan" yang dipilihnya, lalu ditularkan tanpa sengaja padaku. Bukankah mereka yang menderita sering tak sadar menyebarkan penderitaannya...sebagai bagian pengurangan derita.
Mohon restu Eyang, kuatkan aku dalam satu bulan ini. Jika dia manusia dia akan menjalin hubungan denganku sebagai manusia, jika bukan, tak apa-apa. Toh orang itu tak pernah miskin, tak pernah merasakan sebagai manusia kelas tak berpunya...Adapun aku dengan cinta selektif selalu disini, berharap yang terbaik. Lahir bathin.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment